Berita
https://www.facebook.com/share/p/1F71w4hTms/
𝗠𝗮𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗞𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗪𝗶𝘀𝗮𝘁𝗮 𝗥𝗮𝗺𝗮𝗵 𝗠𝘂𝘀𝗹𝗶𝗺, 𝗣𝗼𝗹𝘁𝗲𝗸𝗽𝗮𝗿 𝗠𝗮𝗸𝗮𝘀𝘀𝗮𝗿 𝗚𝗮𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂 𝗨𝘀𝗮𝗵𝗮
𝗠𝗔𝗠𝗔𝗦𝗔, 𝗠𝗱𝗕 – Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, terus mengembangkan sektor pariwisata dengan pendekatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Salah satunya melalui pengembangan konsep Muslim Friendly Tourism atau pariwisata ramah muslim yang tetap mempertahankan identitas budaya lokal.
Upaya tersebut dilakukan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang digelar Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassar bersama Pemerintah Kabupaten Mamasa pada 28–29 Agustus 2026 di Osango.
Sebanyak 40 pelaku usaha pariwisata mengikuti kegiatan pendampingan yang berfokus pada pengelolaan destinasi berbasis paket wisata, pariwisata ramah lingkungan, serta penerapan prinsip ramah muslim.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi tahun kelima kolaborasi Poltekpar Makassar dan Pemerintah Kabupaten Mamasa dalam mendorong pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.
𝐖𝐢𝐬𝐚𝐭𝐚 𝐑𝐚𝐦𝐚𝐡 𝐌𝐮𝐬𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐫𝐚𝐫𝐭𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐁𝐮𝐝𝐚𝐲𝐚 𝐋𝐨𝐤𝐚𝐥
Mewakili Direktur Poltekpar Makassar, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M), Prof. Ilham Junaid, Ph.D., menjelaskan bahwa konsep Muslim Friendly Tourism tidak ditujukan untuk menciptakan destinasi yang eksklusif bagi wisatawan muslim.
Menurut dia, konsep tersebut justru merupakan pendekatan pelayanan yang inklusif dengan menyediakan fasilitas dan layanan yang memungkinkan wisatawan muslim menjalankan kebutuhan keagamaannya dengan nyaman.
"𝑀𝑢𝑠𝑙𝑖𝑚 𝐹𝑟𝑖𝑒𝑛𝑑𝑙𝑦 𝑇𝑜𝑢𝑟𝑖𝑠𝑚 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑒𝑘𝑠𝑘𝑙𝑢𝑠𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠. 𝐼𝑛𝑖 𝑡𝑒𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑘𝑙𝑢𝑠𝑖𝑓 𝑡𝑎𝑛𝑝𝑎 ℎ𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑢𝑏𝑎ℎ 𝑖𝑑𝑒𝑛𝑡𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑏𝑢𝑑𝑎𝑦𝑎 𝑑𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ," 𝑢𝑗𝑎𝑟 𝐼𝑙ℎ𝑎𝑚.
Mamasa dinilai memiliki modal sosial yang kuat untuk mengembangkan konsep tersebut. Kehidupan masyarakat yang hidup dalam keberagaman agama, ditambah kekayaan alam dan budaya, dapat dikemas menjadi daya tarik wisata yang memiliki nilai ekonomi.
Dengan demikian, pengembangan wisata ramah muslim tidak harus menghilangkan karakter lokal. Sebaliknya, prinsip tersebut dapat berjalan berdampingan dengan budaya, tradisi, serta kehidupan masyarakat setempat.
𝐓𝐢𝐠𝐚 𝐇𝐚𝐥 𝐃𝐚𝐬𝐚𝐫 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐖𝐢𝐬𝐚𝐭𝐚 𝐑𝐚𝐦𝐚𝐡 𝐌𝐮𝐬𝐥𝐢𝐦
Dalam pendampingan, salah satu narasumber, Dr. Rahmawati, menjelaskan sejumlah kebutuhan dasar yang perlu diperhatikan pelaku usaha ketika mengembangkan destinasi ramah muslim.
Setidaknya terdapat tiga aspek yang menjadi perhatian.
Pertama, ketersediaan tempat ibadah atau musala. Fasilitas tersebut penting agar wisatawan muslim tetap dapat menjalankan ibadah selama berada di destinasi wisata.
Kedua, petunjuk arah kiblat di penginapan. Informasi sederhana ini dapat memberikan kemudahan bagi wisatawan muslim ketika hendak melaksanakan shalat di kamar.
Ketiga, jaminan kehalalan makanan. Restoran maupun tempat makan yang menyasar wisatawan muslim perlu memperhatikan bahan baku, proses pengolahan, hingga sertifikasi halal sesuai ketentuan yang berlaku.
"𝐷𝑒𝑠𝑡𝑖𝑛𝑎𝑠𝑖 𝑟𝑎𝑚𝑎ℎ 𝑚𝑢𝑠𝑙𝑖𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 𝑚𝑒𝑚𝑝𝑒𝑟ℎ𝑎𝑡𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑖𝑔𝑎 ℎ𝑎𝑙 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑠𝑎𝑟 𝑖𝑛𝑖 𝑎𝑔𝑎𝑟 𝑤𝑖𝑠𝑎𝑡𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑛𝑦𝑎𝑚𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑎𝑚𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑖𝑏𝑎𝑑𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛," 𝑘𝑎𝑡𝑎 𝑅𝑎ℎ𝑚𝑎𝑤𝑎𝑡𝑖.
Ketiga aspek tersebut pada dasarnya bukan hanya berkaitan dengan fasilitas keagamaan, tetapi juga menyangkut kualitas pelayanan dan rasa aman wisatawan selama melakukan perjalanan.
𝐏𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐚𝐡𝐚 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐬𝐮𝐧 𝐏𝐚𝐤𝐞𝐭 𝐖𝐢𝐬𝐚𝐭𝐚
Pendampingan tidak hanya membahas konsep wisata ramah muslim. Para pelaku usaha juga mendapatkan pembekalan mengenai bagaimana mengemas potensi daerah menjadi produk wisata yang lebih menarik dan mudah dipasarkan.
Lima narasumber terlibat dalam kegiatan tersebut, yakni Prof. Ilham Junaid, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Mamasa Arvin Ital Putra, Dr. Rahmawati, Risman Jaya yang membawakan materi pariwisata ramah lingkungan, serta Mia Rahayu yang memberikan materi penyusunan paket wisata.
Peserta kemudian mengikuti sesi praktik dengan menyusun itinerary atau rencana perjalanan wisata.
Melalui praktik tersebut, pelaku usaha tidak hanya belajar menjual sebuah destinasi, tetapi juga memahami bagaimana menghubungkan berbagai potensi menjadi satu pengalaman perjalanan yang utuh.
Misalnya, daya tarik alam dapat dipadukan dengan kuliner, budaya, penginapan, aktivitas masyarakat, hingga produk UMKM lokal.
Pendekatan semacam ini penting karena wisatawan pada dasarnya tidak hanya membeli tempat yang dikunjungi, tetapi juga membeli pengalaman selama melakukan perjalanan.
"𝐾𝑎𝑚𝑖 𝑏𝑒𝑙𝑎𝑗𝑎𝑟 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑢𝑠𝑢𝑛 𝑝𝑎𝑘𝑒𝑡 𝑤𝑖𝑠𝑎𝑡𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑎𝑟𝑖𝑘 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑙𝑖𝑔𝑢𝑠 𝑟𝑎𝑚𝑎ℎ 𝑙𝑖𝑛𝑔𝑘𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛. 𝐼𝑛𝑖 𝑚𝑜𝑑𝑎𝑙 𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟 𝑏𝑎𝑔𝑖 𝑘𝑎𝑚𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑢𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑎𝑛," 𝑘𝑎𝑡𝑎 𝐵𝑒𝑛𝑦𝑎𝑚𝑖𝑛, 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎.
𝐏𝐚𝐫𝐢𝐰𝐢𝐬𝐚𝐭𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐋𝐢𝐧𝐠𝐤𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐁𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Mamasa, Arvin Ital Putra, mengapresiasi konsistensi Poltekpar Makassar dalam mendampingi pengembangan pariwisata di Mamasa.
Menurut dia, potensi alam yang dimiliki Mamasa harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Keindahan alam, kata dia, tidak akan memberikan dampak ekonomi yang maksimal apabila tidak dikelola oleh SDM yang memiliki kompetensi dalam pelayanan, pemasaran, pengelolaan destinasi, dan penyusunan produk wisata.
Karena itu, pengembangan SDM menjadi bagian penting dalam upaya menjadikan pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Di sisi lain, pengembangan pariwisata harus tetap memperhatikan daya dukung lingkungan. Destinasi yang semakin banyak dikunjungi tanpa pengelolaan sampah, sanitasi, dan lingkungan yang baik justru berpotensi mengurangi kualitas destinasi itu sendiri.
Artinya, konsep pariwisata berkelanjutan menempatkan ekonomi, masyarakat, budaya, dan lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan.
𝐏𝐨𝐭𝐞𝐧𝐬𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐚𝐭𝐚 𝐄𝐝𝐮𝐤𝐚𝐬𝐢 𝐏𝐞𝐭𝐞𝐫𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐁𝐚𝐛𝐢
Selain membahas wisata ramah muslim dan paket wisata, pendampingan tersebut juga membuka diskusi mengenai potensi wisata berbasis budaya lokal yang memiliki karakter unik.
Dr. Rahmawati menyoroti kemungkinan pengembangan wisata edukasi peternakan babi sebagai salah satu produk wisata berbasis budaya di Mamasa.
Menurutnya, tradisi pemeliharaan babi yang masih dijalankan sebagian masyarakat Mamasa dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata budaya apabila dikelola secara profesional.
Ia menilai terdapat segmen wisatawan tertentu yang tertarik mempelajari kehidupan masyarakat lokal, termasuk bagaimana masyarakat memelihara ternak sebagai bagian dari aktivitas sosial dan ekonomi.
Namun, pengembangan objek tersebut harus tetap memperhatikan aspek kebersihan, sanitasi, keamanan, dan tata kelola peternakan.
"𝐵𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑦𝑎, 𝑚𝑒𝑙𝑖ℎ𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑏𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑡𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 ℎ𝑎𝑟𝑎𝑚 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 ℎ𝑎𝑟𝑎𝑚 𝑖𝑡𝑢 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑎𝑖𝑡 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑘𝑒 𝑚𝑢𝑙𝑢𝑡. 𝐴𝑑𝑎 𝑠𝑒𝑔𝑚𝑒𝑛 𝑤𝑖𝑠𝑎𝑡𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛 𝑚𝑒𝑙𝑖ℎ𝑎𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑠𝑒𝑠 𝑝𝑒𝑡𝑒𝑟𝑛𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑏𝑖 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑏𝑎𝑔𝑖𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑤𝑖𝑠𝑎𝑡𝑎 𝑏𝑢𝑑𝑎𝑦𝑎 𝑑𝑖 𝑀𝑎𝑚𝑎𝑠𝑎. 𝑇𝑒𝑛𝑡𝑢 𝑠𝑎𝑗𝑎 𝑝𝑒𝑡𝑒𝑟𝑛𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑏𝑖 ℎ𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑑𝑖𝑡𝑎𝑡𝑎 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑖𝑘, 𝑡𝑒𝑟𝑢𝑡𝑎𝑚𝑎 𝑘𝑒𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔," 𝑗𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑅𝑎ℎ𝑚𝑎𝑤𝑎𝑡𝑖.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan wisata berbasis budaya perlu melihat suatu tradisi dalam konteks sosial dan edukasi, sekaligus menghormati batasan dan kenyamanan wisatawan dengan latar belakang yang beragam.
𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐈𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐌𝐚𝐦𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐢 𝐓𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐫𝐢𝐰𝐢𝐬𝐚𝐭𝐚
Salah satu pelaku UMKM, Leonard, menilai pengembangan pariwisata di Mamasa perlu dilakukan dengan tetap menempatkan budaya lokal dan kehidupan masyarakat sebagai fondasi utama.
Menurut dia, masyarakat Mamasa telah terbiasa hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang. Karena itu, pengembangan pariwisata juga harus mencerminkan semangat tersebut.
"Kami di sini hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang. Pengembangan wisata harus memperhatikan kenyamanan semua pihak dan tetap menjaga kelestarian budaya serta lingkungan," ujar Leonard.
Konsep wisata ramah muslim dengan demikian tidak harus dipahami sebagai upaya menyeragamkan destinasi. Sebaliknya, konsep tersebut dapat menjadi salah satu cara meningkatkan kualitas pelayanan agar destinasi mampu menerima wisatawan dengan kebutuhan yang beragam.
Bagi Mamasa, tantangannya adalah menemukan titik temu antara budaya lokal, kebutuhan wisatawan, kelestarian lingkungan, kualitas pelayanan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, potensi wisata Mamasa tidak hanya dijual melalui keindahan alam, tetapi dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang memiliki nilai edukasi, budaya, lingkungan, dan ekonomi.
Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, masyarakat, dan komunitas lokal menjadi faktor penting agar pengembangan tersebut dapat berlangsung secara konsisten.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan, ekosistem pariwisata Mamasa diharapkan semakin kuat, lestari, inklusif, dan mampu menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian utama dari pertumbuhan industri pariwisata di Sulawesi Barat.
29.08.2026 | 𝑳𝒆𝒐 𝑴𝒅𝑩 | 𝑴𝒅𝑩 𝑻𝑽 𝑰𝒏𝒅𝒐𝒏𝒆𝒔𝒊𝒂 | 𝒎𝒂𝒓𝒌𝒆𝒕𝒊𝒏𝒈: 𝒂𝒅𝒗𝒆𝒓𝒕𝒐𝒓𝒊𝒂𝒍/𝑰𝒌𝒍𝒂𝒏/𝑷𝒖𝒃𝒍𝒊𝒌𝒂𝒔𝒊 𝑩𝒊𝒔𝒏𝒊𝒔: 0853 4288 0606 𝑫𝒐𝒏𝒂𝒔𝒊: 𝑮𝒐𝑷𝒂𝒚/𝑫𝒂𝒏𝒂/𝑳𝒊𝒏𝒌𝑨𝒋𝒂 (0853 4288 0606)
https://www.facebook.com/groups/829603758924865/?ref=share&mibextid=NSMWBT
Ayo bergabung dalam grup diatas untuk berdiskusi, berbagi informasi aktual, dan menyampaikan kritik konstruktif kepada Pemerintah Mamasa. Grup ini terbuka dan demokratis!
#AyokeMamasa #SurgadibalikMamasa
Leo Mdb Welem Sambolangi Arvin Ital Putra Politeknik Pariwisata Makassar